Hilirisasi tiada boleh berfokus pada industri besar saja, namun harus melibatkan UMKM sebagai bagian dari rantai pasok industri dalam diversifikasi yang mana menjadi program pemerintah

Jakarta – Menteri Koperasi dan juga UKM Teten Masduki menyebutkan kehadiran fintech peer to peer (P2P) lending harus membantu UMKM menjadi bagian dalam program pengembangan industri yang didorong pemerintah.

"Fintech dapat masuk untuk membantu pembiayaan ke UMKM untuk modal kerja, akibat dalam program 40 persen belanja pemerintah, UMKM mempunyai kepastian biaya serta pendapatan," katanya dalam keterangan resminya di dalam Jakarta, Jumat.

Menteri Teten menegaskan pengembangan tidak ada boleh berfokus pada industri besar saja, namun harus melibatkan UMKM sebagai bagian dari rantai pasok industri dalam hilirisasi yang dimaksud menjadi program pemerintah.

Ia memperlihatkan UMKM sanggup menghasilkan end product dengan teknologi. Salah satunya nikel, UMKM bisa saja memuat komoditas hilirisasi dalam bentuk alat makan hingga komoditas kesehatan. Termasuk di dalam sektor perkebunan melalui produk-produk CPO hingga rumput laut.

"Hilirisasi akan menjadi sektor ekonomi baru bagi UMKM. Hal ini juga yang digunakan kami harapkan, perusahaan fintech maupun lembaga keuangan juga melihat keunggulan domestik Indonesia. Kita unggul dari banyak sumber daya alam (SDA) yang digunakan ada, seperti agriculture komoditas sawit, maupun aquaculture," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Sunu Widyatmoko menuturkan saat ini masih terjadi kesenjangan antara kebutuhan serta kemampuan pendanaan.

Dari riset AFPI bersama EY Parthenon, peluang sektor pendanaan pada 2026 bisa jadi mencapai Rp4.300 triliun, namun kemampuan pendanaan belaka ada di tempat bilangan Rp1.900 triliun.

"Artinya ada gap sekitar Rp2.400 triliun dalam saat permintaan pendanaan tumbuh tahunan sebesar 7 persen. AFPI berharap dengan sumbangsih Rp660 triliun pendanaan dari fintech dapat menyokong lebih besar besar lagi ruang bagi startup pembiayaan dalam negeri untuk tumbuh serta berkontribusi bagi digital ekonomi Tanah Air," tutur Sunu.

Fintech lending, sebutnya, sudah berupaya memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut, tapi ternyata masih cuma kurang. Pihaknya pun berkomitmen memberikan solusi pendanaan yang mana optimal, dengan akses UMKM yang digunakan lebih banyak luas lagi.

"Diharapkan 30 jt UMKM sanggup onboarding digital di tempat tahun 2024, dengan kerja identik semua pihak, pertumbuhan inklusi keuangan digital sanggup lebih tinggi optimal terpenuhi," katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *